MCCB (Molded Case Circuit Breaker)

MCCB atau Moulded Case Circuit Breaker berfungsi sebagai pemutus sirkuit pada tegangan menengah dengan arus 100A hingga 600A.
 
mold case circuit breaker
Dalam memilih circuit breaker hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah :
  • Karakteristik dari sistem di mana circuit breaker tersebut dipasang.
  • Kebutuhan akan kontinuitas pelayanan sumber daya listrik.
  • Aturan-aturan dan standar proteksi yang berlaku.

Karakteristik  sistem
  1. Sistem tegangan, tegangan operasional dari circuit breaker harus lebih besar atau minimum sama dengan tegangan sistem.
  2. Frekuensi sistem, frekuensi pengenal dari circuit breaker harus sesuai dengan frekuensi sistem. Circuit breaker Merlin Gerin dapat beroperasi pada frekuensi 50 atau 60 Hz.
  3. Arus pengenal, arus pengenal dari circuit breaker harus disesuaikan dengan besarnya arus beban yang dilewatkan oleh kabel, dan harus lebih kecil dari arus ambang yang diijinkan lewat pada kabel.
  4. Kapasitas pemutusan, kapasitas pemutusan dari circuit breaker harus paling sedikit sama dengan arus hubung singkat prospektif yang mungkin akan terjadi pada suatu titik instalasi dimana circuit breaker tersebut dipasang.
  5. Jumlah pole dari circuit breaker
  6. Jumlah pole dari circuit breaker sangat tergantung kepada sistem pembumian dari sistem.

Kebutuhan Kontinuitas Sumber Daya

Tergantung dari kebutuhan tingkat kontinuitas pelayanan sumber daya listrik, dalam memilih circuit breaker harus diperhatikan :
  1. Diskriminasi total dari dua circuit breakaer yang ditempatkan secara seri.
  2. Diskriminasi terbatas (sebagian), diskriminasi hanya dijamin sampai tingkat arus gangguan tertentu.

NFB (No Fuse Breaker)

No fuse breaker
NFB atau No Fuse Breaker berfungsi sebagai pembatas arus listrik dari beban lebih. Bila arus yang mengalir pada NFB ini melebihi dari In (arus nominal) pada NFB, maka NFB ini akan memutuskan arus ke beban.
 
NFB dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebagai pemutus tanpa sekering, berfungsi untuk menghubungkan dan memutus tegangan/arus utama dengan sirkuit atau beban, selain itu juga berfungsi untuk memutuskan/melindungi beban dari arus yang berlebihan ataupun jika terjadi hubung singkat. Cara kerja NFB, ketika arus yang mengalir melaluinya melebihi dari nilai yang tertera pada NFB maka secara otomatis NFB akan memutuskan arusnya gambar diatas adalah NFB 3 Phase umumnya digunakan pada instalasi motor induksi atau breaker pada panel kontrol.
 
Selain itu NFB sangat baik di gunakan pada pengguna listrik rumah tingkat atas dan industry. Ini di karenakan Penggunaan NFB yang sangat menjamin keamanan listrik anda. Namun sebaliknya penggunaan NFB jangan pernah anda gunakan untuk pengguna rumah menengah ke bawah (SEDERHANA), karena alat ini tidak akan berfungsi pada instalasi rumah anda.

Apa itu Kapasitor?

Kapasitor adalah salah satu komponen pasif yang menyimpan energi dalam bentuk medan elektrostatik. Dalam bentuk yang paling sederhana, sebuah kapasitor mengandung dua lempeng penghantar yang terpisah oleh bahan insulator yang disebut thedielectric. Kapasitansi berbanding lurus dengan area permukaan lempeng, dan berbanding terbalik dengan pemisahan antara pelat. Kapasitansi juga bergantung pada konstanta dielektrik dari bahan yang yang memisahkan pelat.

Satuan standar dari kapasitansi adalah Farad, disingkat F. Ini merupakan satuan yang luas, satuan umum lainnya adalah mikrofarad disingkat uF (1 uF = 10-6F) dan picofarad disingkat pF (1 pF = 10-12 F).


Kapasitor juga dapat dikemas dalam chip. Umumnya dirangkai dengan transistor dalam dynamic random access memory (DRAM). Kapasitor membantu mempertahankan kandungan memori, karena ukurannya yang kecil, komponen ini memiliki kapasitansi yang kecil. Mereka harus diisi muatan ribuan kali per detik atau DRAM akan kehilangan datanya.


Kebanyakan kapasitor dipakai dalam catu daya pada semua jenis rangkaian elektronika, termasuk komputer dan segala aksesorisnya. Dalam sistem ini, kapasitor berfungsi sebagai filter tegangan output dari rectifier agar stabil seperti tegangan output dari baterai.

Baca juga "Cara Menghitung Nilai Kapasitor "

Water Level Control Switch

water level controlWater level control switch berfungsi sebagai sakelar otomatis yang digunakan pada instalasi pengisian tandon air. Komponen ini dilengkapi dua pemberat (sinker) yang akan berada pada posisi menggantung bila tandon air dalam keadaan kosong. Saat air berada pada batas tengah pemberat yang paling bawah, maka pemberat akan menarik switch sehingga pompa air akan aktif dan mulai mengisi air ke dalam tandon. Saat permukaan air berada pada batas tengah pemberat paling atas, pemberat yang di bawah akan mengambang dan switch akan kembali ke posisi awal sehingga kontak akan memutus arus listrik dan mematikan pompa air.


water level control

Instalasi sederhananya adalah sebagai berikut: 
water level control



Pada kondisi standby Sakelar harus dalam keadaan tertutup (close). Dengan demikian jika kedua sinker menggantung, water level control switch akan menutup dan arus mengalir ke pompa dan pompa aktif melakukan pengisian. Sebaliknya jika kedua sinker mengambang (permukaan air mencapai sinker atas) maka water level control switch akan membuka dan memutuskan arus yang mengalir ke pompa, pengisian berhenti.

Resistor yang Umum Dijual di Pasaran

Sebagian orang atau rekan-rekan yang baru mulai praktek elektronika kadang masih sering kebingungan dalam mencari resistor dengan nilai yang diinginkan. Oleh karenanya pada postingan kali ini saya tampilkan gambar resistor yang umum dijual di pasaran. 


Jika nilai resistor yang diinginkan tidak ada juga di gambar di atas, kita bisa menyiasatinya menggunakan resistor variable. Tentunya, resistor variable yang kita pakai harus memiliki resistansi yang lebih besar dari resistansi yang kita inginkan agar nantinya bisa disesuaikan.


Untuk mengenal lebih dalam mengenai resistor, baca juga artikel di bawah ini: 
Apa itu Resistor 
Jenis-jenis Resistor

Transistor

Transistor adalah suatu komponen elektronika yang dipakai dalam rangkaian untuk mengendalikan jumlah arus atau tegangan yang besar dengan arus dan tegangan yang kecil.

Hal itu dilakukan dengan cara mengapit satu semikonduktor di antara dua semikonduktor yang lain. Karena arus ditransfer melewati bahan yang umumnya memiliki resistansi tinggi (resistor), maka disebut "transfer-resistor" atau transistor.

Transistor diciptakan pertama kali pada tahun 1948 oleh William Bradford Shockley, John Bardeen dan Walter House Brattain. Sedangkan konsep dari transistor dipatenkan jauh sebelumnya yaitu pada tahun 1928 di Jerman. Hanya saja pada saat itu belum pernah ada atau belum ada yang bisa membuat transistor.

Transistor ada dua tipe yaitu npn dan pnp, dimana n untuk negatif dan p untuk positif. Perbedaan antara kedua transistor hanyalah pengaturan pembiasan tegangannya.
 


Untuk memahami bagaimana cara kerja transistor, kita harus memahami dahulu bagaimana semikonduktor bereaksi terhadap potensial listrik. Beberapa semikonduktor akan menjadi negatif, yang berarti elektron bebas dalam material melintas dari elektroda negatif ke positif. Semikonduktor yang lain akan menjadi positif, dalam hal ini elektron mengisi lubang dalam kulit elektron atom, artinya berperilaku seolah-olah partikel positif berpindah dari elektroda positif ke elektroda negatif. Jenis transistor ditentukan oleh struktur atom dari bahan semikonduktor tertentu.
 

Dua aplikasi dari transistor dalam rangkaian listrik adalah sebagai berikut:
  1. Transistor dapat berfungsi sebagai saklar. Biasanya dipakai untuk mengaktifkan realy, lampu, alarm dan sebagainya. 

  2. Transistor sebagai penguat. Biasanya dipalikasikan kedalam penguat audio.

Jenis-jenis transistor

Ada berbagai macam transistor yang telah dikembangkan sejak 1948, seperti berikut.

  • Bipolar junction transistor (BJT)
  • Field-effect transistor (FET)
  • Heterojunction bipolar transistor
  • Unijunction transistor
  • Dual-gate FET
  • Avalanche transistor
  • Thin-film transistor
  • Darlington transistor
  • Ballistic transistor
  • FinFET
  • Floating gate transistor
  • Inverted-T effect transistor
  • Spin transistor
  • Photo transistor
  • Insulated gate bipolar transistor
  • Single-electron transistor
  • Nanofluidic transistor
  • Trigate transistor (Intel prototype)
  • Ion-sensitive FET
  • Fast-reverse epitaxal diode FET (FREDFET)
  • Electrolyte-Oxide-Semiconductor FET (EOSFET)  

Thyristor, TRIAC & DIAC

Ada beberapa jenis thyristor yang ditunjukkan pada gambar 1. Triac terlihat mirip sedangkan diac terlihat seperti dioda penyearah. Untuk simbol dan keterangan setiap pinnya terlihat pada gambar 2. 



Gambar 1. thyristor dan triac 
Thyristor merupakan dioda yang digabung. Selain memiliki kaki anoda (A) dan katoda (K), thyristor juga memiliki kaki lain yang umumnya disebut Gate (G). Sama halnya dengan dioda, Thyristor menghantarkan arus dari anoda ke katoda, tapi hal ini hanya terjadi jika Gate mendapatkan tegangan positif dan ada arus yang mengalir ke Gate untuk mengaktifkan komponen tersebut, maka arus akan mengalir dari anoda ke katoda. Untuk menon-aktifkannya kita harus memutuskan arus yang mengalir antara anoda dan katoda. Rangkaian aplikasinya dapat dilihat di bawah.

Meskipun S1 dalam keadaan tertutup, triac tidak akan aktif dan lampu tidak akan menyala. Untuk mengaktifkannya, kita harus menekan S2, sehingga Gate mendapat tegangan trigger. Dengan demikian triac aktif dan lampu akan menyala. Untuk mematikan lampu, S1 harus dalam keadaan terbuka. Dalam rangkaian listrik, thyristor biasanya disebut SCR yang merupakan singkatan dari silicon controlled rectifier

Triac sangat mirip dengan thyristor, perbedaannya adalah triac menghantarkan arus bolak-balik dan memiliki tiga elektroda yang disebut dengan anoda 1 (A1), anoda 2 (A2) dan gate (G). Triac umumnya dipakai dalam rangkaian arus ac untuk mengaktifkan bor listrik atau lampu-lampu. 

Thyristor dan triac dengan daya rendah umumnya dikemas seperti transistor, berbeda dengan yang berdaya besar dikemas dengan housing yang berbeda seperti yang terlihat pada gambar 1 di atas. 

Diac atau yang biasa disebut dioda dua arah dipakai bersama dengan thyristor dan triac. Properti utama mereka adalah bahwa perlawanan mereka sangat besar sampai tegangan pada ujungnya melebihi nilai yang sudah ditetapkan. Ketika tegangan di bawah nilai ini, diac merespon sebagai tahanan nilai besar dan ketika tegangan naik bertindak sebagai tahanan nilai rendah. 



Gambar 2. simbol dan keterangan pin. a - thyristor, b - triac, c - diac 

Gambar 3. Prinsip kerja thyristor 

Percobaan 

Pada gambar 4, thyristor diaplikasikan sebagai pengendali alarm dengan deteksi cahaya. Jika tidak ada cahaya, phototransistor tidak akan menghantar. Tapi jika ada cahaya, phototransistor akan mengonduksi dan bell akan aktif. Meskipun cahaya kita hilangkan, bel akan tetap aktif. Untuk mematikannya, maka saklar S1 harus dalam keadaan terbuka. 
 Gambar 4. rangkaian alarm menggunakan thyristor dan phototransistor

Gambar 5 di bawah adalah rangkaian flasher lampu pijar menggunakan triac dan diac. Tegangan utama diregulasi oleh dioda 1N4004. Kapasitor 220 uF akan terisi muatan dan tegangannya akan naik. Ketika tegangan ini mencapai nilai ketentuan diac (20v), kapasitor akan mengosongkan muatannya melalui diac mengalir ke triac. Hal ini akan mengaktifkan triac dan menyalakan lampu dalam waktu yang sangat singkat. Setelah waktu yang sudah ditentukan (diatur melalui potensio 100K), kapasitor akan terisi muatan kembali dan siklus ini akan terulang. Trimpot 1K berfungsi untuk mengatur level arus yang dibutuhkan untuk memicu triac. 
 Gambar 5. Flasher

Gambar 6 di bawah adalah aplikasi dari triac dan diac dalam rangkaian dimmer lampu, dan dapat juga diaplikasikan sebagai rangkaian pengatur kecepatan putaran motor. 
Gambar 6. Rangkaian pengatur intensitas cahaya lampu dan pengendali kecepatan putaran motor

Dioda

Dioda adalah komponen yang mengijinkan arus mengalir melaluinya secara searah (penyearah arus). Dioda yang sering digunakan adalah dioda semikonduktor. Simbol dioda ditunjukkan pada gambar di bawah. 


Ketika dipasang di rangkaian lampu baterai sederhana, dioda akan dapat memungkinkan atau mencegah arus mengalir ke lampu tergantung pada polaritas tegangan yang diterapkan.
 

Ketika polaritas baterai searah dengan elektron yang mengalir melewati dioda, maka dioda dikatakan terpasang bias maju (forward bias). Sebaliknya, ketika polaritas baterai dibalik, maka dioda akan menghentikan arus, dalam keadaan ini dioda dikatakan terpasang secara bias mundur (reverse bias). Dioda dapat diibaratkan seperti saklar, dimana dioda akan dalam keadaan "close" ketika dipasang secara bias maju dan akan dalam keadaan "open" jika dipasang secara bias mundur.

Anehnya, arah mata panah pada simbol dioda berlawanan dengan arah aliran elektron. Hal ini dikarenakan simbol dioda diciptakan oleh insinyur yang sebagian besar menggunakan catatan aliran konvensional dalam skemanya, menunjukkan arus sebagai aliran muatan listrik yang mengalir dari sumber positif ke sumber negatif. Ketetapan ini berlaku untuk semua komponen semikonduktor yang memiliki simbol dengan tanda anak panah. Arah mata panah tersebut menunjukkan arah aliran arus, dan berlawanan dengan arah aliran elektron.


Perilaku dioda dianalogikan seperti perangkat hidrolik yang dikenal dengan check valve (katup). Sebuah katup memungkinkan fluida mengalir secara searah saja seperti gambar di bawah ini.
 


Pada dasarnya, katup adalah perangkat yang bekerja menggunakan tekanan. Katup akan dalam keadaan terbuka dan memungkinkan fluida mengalir jika solenoidnya mendapatkan tegangan pada polaritas yang benar. Namun, jika polaritasnya terbalik, maka katup tidak akan membuka dan fluida tidak akan mengalir.

Sama halnya dengan check valve, dioda merupakan komponen yang bekerja dengan tegangan. Perbedaan yang mendasar antara forward bias dan reverse bias adalah polaritas drop tegangannya. Mari kita perhatikan rangkaian sederhana di bawah ini.


Dioda yang diberi bias maju menghantarkan arus dan drop tegangan yang melewatinya sangat kecil dan membiarkan tegangan dari baterai mengalir ke lampu. Tapi, jika polaritas baterai dibalik, dioda menjadi dibiaskan mundur, drop tegangannya akan besar dan tidak akan mengalirkan arus ke lampu.

Dioda Zener

Dioda zener adalah salah satu jenis dioda yang memiliki sisi exsklusif pada daerah breakdownnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai stabilizer atau pembatas tegangan. Struktur dioda zener hampir sama dengan dioda pada umumnya, hanya konsentrasi doping saja yang berbeda. Kurva karakteristik dioda zener juga sama seperti dioda pada umumnya, namun pada daerah breakdown dimana pada saat bias mundur mencapai tegangan breakdown maka arus dioda naik dengan cepat seperti pada gambar karakteristik dioda zener dibawah. Daerah breakdown inilah yang menjadi referensi untuk penerapan dari dioda zener. Sedangkan pada dioda biasa daerah breakdown meru[pakan daerah kritis yang harus dihindari dan tidak diperbolehkan pemberian tegangan mundur sampai pada daerah breakdown, karena bisa merusak dioda biasa.
 


Titik breakdown dari suatu dioda zener dapat dikontrol dengan memvariasi konsentrasi doping. Konsentrasi doping yang tinggi, akan meningkatkan jumlah pengotoran sehingga tegangan zenernya (Vz) akan kecil. Demikian juga sebaliknya, dengan konsentrasi doping yang rendah diperoleh Vz yang tinggi. Pada umumnya dioda zener dipasaran tersedia mulai dari Vz 1,8 V sampai 200 V, dengan kemampuan daya dari ¼ hingga 50 W.

Penerapan dioda zener yang paling penting adalah sebagai regulator atau stabilizer tegangan (voltage regulator). Rangkaian dasar stabilizer tegangan menggunakan dioda zener dapat dilihat pada gambar dibawah. Agar rangkaian ini dapat berfungsi dengan baik sebagai stabilizer tegangan, maka dioda zener harus bekerja pada daerah breakdown. Yaitu dengan memberikan tegangan sumber (Vi) harus lebih besar dari tegangan dioda zener (Vz).

Rangkaian Dasar Stabilizer Dengan Dioda Zener


Pada dioda zener terdapat nilai Izm (Arus zener maksimum) yang telah ditentukan ooleh pabrik dan arus zener tidak boleh melebihi Izm tersebut, karena akan mengakibatkan kerusakan pada dioda zener. RS adalah hambatan yang berfungsi sebagai pembatas arus untuk rangkaian stabilizer tegangan. Apabila tegangan Vi lebih tinggi dari Vz dan RL lebih besar dari RL minimum maka fungsi dari stabilizer tegangan pada dioda zener dapat bekerja, oleh karena itu RL harus lebih besar dari RLmin. RLmin dapat ditentukan pada saat VL = Vz sebagai berikut

Nilai RLmin ini akan menjamin dioda zener bekerja secara konsisten. Bila zener sudah bekerja, berarti VL = Vz = konstan, dan dengan menganggap Vi tetap maka turun tegangan pada RS (VR) juga tetap, yaitu :

Sehingga arus yang mengalir pada RS dapat diketahui dengan :
 

Dan arus yang mengalir pada dioda zener dapat ditentukan dengan :
 

Arus pada dioda zener (Iz) tidak boleh melebihi nilai Izm yang telah ditentukan pabrik, untuk membatasi arus zener ini dapat mengatur nilai RS dengan rumusan diatas.

Infrared LED

LED inframerah sama seperti LED biasa hanya saja output cahayanya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Untuk melihat cahaya LED inframerah, kita dapat menyalakannya dengan baterai dan menambahkan resistor, kemudian melihatnya menggunakan sebuah kamera ponsel. Dengan demikian akan terlihat pencahayaan pada layar.

LED inframerah terkadang bening dan kadang berwarna hitam. Mereka beroperasi sama seperti LED merah dengan karakteristik yang sama, drop tegangan sekitar 1.7v.

Kadang-kadang LED inframerah berdenyut dengan arus tinggi untuk jangka waktu yang sangat singkat tetapi hal yang perlu diingat adalah penyerapan daya LED 5mm adalah sekitar 70mW. Ini berarti arus konstan tidak boleh lebih dari 40mA.

LED inframerah juga disebut TRANSMITTING LED karena mereka memancarkan cahaya. Ini dinamakan panjang Tx (untuk transmisi). Sebuah LED inframerah dapat dihubungkan ke suplai 5V melalui resistor pembatas arus 220R untuk arus 15mA.

Receiver inframerah (Rx) dapat terlihat persis seperti LED inframerah, tetapi led ini tidak memancarkan cahaya IR. Led ini mendeteksi pencahayaan inframerah dan harus terhubung dengan cara yang benar dalam sebuah rangkaian.

Mereka memiliki resistansi yang sangat tinggi jika tidak menerima iluminasi IR dan resistansi menurun dengan meningkatnya iluminasi.

Ini berarti mereka terhubung ke suplai 5V melalui resistor dan ketika resistansi dari penerima inframerah menurun, arus akan mengalir. Ini akan menghasilkan tegangan pada resistor dan tegangan ini diumpankan ke seluruh rangkaian.

Berikut ini adalah rangkaian untuk menunjukkan bagaimana untuk menghubungkan LED inframerah dan Infrared (dioda) penerima:


Anda tidak dapat menggunakan IR LED sebagai penerima atau dioda inframerah sebagai illuminator. Mereka diciptakan berbeda. Sebuah LED inframerah memiliki karakteristik drop tegangan 1.7v.

Penerima inframerah tidak memiliki karakteristik tegangan-drop. Ini memiliki resistansi yang tinggi bila tidak diterangi dan resistansi menurun ketika menerima iluminasi.

Resistor

Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat resistif namun beberapa bahan seperti tembaga, perak,  emas dan bahan metal umumnya memiliki resistansi yang sangat kecil. Bahan-bahan tersebut menghantar arus listrik dengan baik, sehingga dinamakan konduktor. Kebalikan dari bahan yang konduktif, bahan material seperti karet, gelas, karbon memiliki resistansi yang lebih besar menahan aliran elektron dan disebut sebagai insulator. Bagaimana prinsip konduksi, dijelaskan pada artikel tentang semikonduktor. 

Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya  terbuat dari bahan karbon. Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol  Ω (Omega).

Tipe resistor yang umum adalah berbentuk tabung dengan dua kaki tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.

Warna
Nilai
faktor pengali
Toleransi
Hitam
0
1
-
Coklat
1
10
1%
Merah
2
100
2%
Jingga
3
1.000
-
Kuning
4
10.000
-
Hijau
5
100.000
-
Biru
6
106
-
Violet
7
107
-
Abu-abu
8
108
-
Putih
9
109
-
Emas
-
0.1
5%
Perak
-
0.01
10%
Tanpa warna
-
-
20%
 

Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol,  sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. 

Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10%  atau 20% memiliki 3 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang terakhir  adalah faktor pengalinya. 

Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas adalah gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah. Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi.  Dari tabel-1 diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resitor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel-1 diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100  = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%. 

Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt.  Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut.
 
Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt  umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100 Ω 5W.

Jenis-jenis Resistor

Pada dasarnya, resistor hanya ada dua macam, yakni resistor tetap (fixed resistor) dan resistor tidak tetap (variable resistor). 

Resistor
Resistor Tetap (Fixed Resistor):
1. Resistor Kawat
2. Resistor Batang Karbon
3. Resistor Keramik atau Porselin
4. Resistor Film Karbon
5. Resistor Film Metal
Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor):
1. Potensiometer
2. Potensiometer Geser
3. Trimpot
4. NTC dan PTC
5. LDR

Untuk resistor tetap, ciri - cirinya adalah nilai resistansinya tidak dapat diubah karena pabrik pembuatnya telah menentukan nilai tetap dari resistor tersebut. Sedangkan, untuk variable resistor, ciri - cirinya adalah nilai resistansinya dapat berubah-ubah, bisa jadi dirubah dengan sengaja atau berubah sendiri karena pengaruh lingkungan. Dengan demikian, sebagian resistor variabel dapat kita tentukan besar resistansinya.

Resistor Kawat 

Resistor kawat adalah jenis resistor generasi pertama yang lahir pada saat rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Bentuknya bervariasi dan memiliki ukuran yang cukup besar. Resistor kawat ini biasanya banyak dipergunakan dalam rangkaian power karena memiliki resistansi yang tinggi dan tahan terhadap panas yang tinggi. Jenis lainnya yang masih dipakai sampai sekarang adalah jenis resistor dengan lilitan kawat yang dililitkan pada bahan keramik, kemudian dilapisi dengan bahan semen. Rating daya yang tersedia untuk resistor jenis ini adalah dalam ukuran 1 watt, 2 watt, 5 watt, dan 10 watt.

Resistor Batang Karbon (Arang) 

Pada awalnya, resistor ini dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi lilitan kawat yang kemudian diberi tanda dengan kode warna berbentuk gelang dan pembacaannya dapat dilihat pada tabel kode warna. Jenis resistor ini juga merupakan jenis resistor generasi awal setelah adanya resistor kawat. Sekarang sudah jarang untuk dipakai pada rangkaian – rangkaian elektronika. Bentuk dari resistor jenis ini dapat dilihat pada gambar di samping.

Resistor Keramik (Porselin) 

Dengan adanya perkembangan teknologi di bidang elektronika, saat ini telah dikembangkan jenis resistor yang terbuat dari bahan keramik atau porselin. Kemudian, dengan perkembangan yang ada, telah dibuat jenis resistor keramik yang dilapisi dengan kaca tipis. Jenis resistor ini telah banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di samping.

Resistor Film Karbon 

Resistor film karbon ini adalah resistor hasil pengembangan dari resistor batang karbon. Sejalan dengan perkembangan teknologi, para produsen komponen elektronika telah memunculkan jenis resistor yang dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode warna. Resistor ini juga sudah banyak digunakan dalam berbagai rangkaian elektronika karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Namun, untuk masalah ukuran fisik, resistor ini masih kalah jika dibandingkan dengan resistor keramik. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di samping.

Resistor Film Metal 

Resistor film metal dibuat dengan bentuk hampir menyerupai resistor film karbon. Resistor tahan terhadap perubahan temperatur. Resistor ini juga memiliki tingkat kepresisian yang tinggi karena nilai toleransi yang tercantum pada resistor ini sangatlah kecil, biasanya sekitar 1% atau 5%. Jika dibandingkan dengan resistor film karbon, resistor film metal ini memiliki tingkat kepresisian yang lebih tinggi dibandingkan dengan resistor film karbon karena resistor film metal ini memiliki 5 buah gelang warna, bahkan ada yang 6 buah gelang warna. Sedangkan, resistor film karbon hanya memiliki 4 buah gelang warna. Resistor film metal ini sangat cocok digunakan dalam rangkaian – rangkaian yang memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, seperti alat ukur. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt.
 
Potensiometer 
Potensiometer merupakan variable resistor yang paling sering digunakan. Pada umumnya, potensiometer terbuat dari kawat atau karbon. Potensiometer yang terbuat dari kawat merupakan potensiometer yang telah lama lahir pada generasi pertama pada waktu rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Potensiometer dari kawat ini memiliki bentuk yang cukup besar, sehingga saat ini sudah jarang ada yang memakai potensiometer seperti ini. Pada saat ini, potensiometer lebih banyak terbuat dari bahan karbon. Ukurannya pun lebih kecil, namun dengan resistansi yang besar. Gambar di samping adalah potensiometer yang terbuat dari bahan karbon. Pada umumnya, perubahan resistansi pada potensiometer terbagi menjadi 2, yakni linier dan logaritmik.

Yang dimaksud dengan perubahan secara linier adalah perubahan nilai resistansinya sebanding dengan arah putaran pengaturnya. Sedangkan, yang dimaksud dengan perubahan secara logaritmik adalah perubahan nilai resistansinya berdasarkan perhitungan logaritmik. Pada umumnya, potensiometer logaritmik memiliki perubahan resistansi yang cukup unik karena nilai maksimal dari resistansi diperoleh ketika kita telah melakaukan setengah kali putaran pada pengaturnya. Sedangkan, nilai minimal diperoleh saat pengaturnya berada pada titik nol atau titik maksimal putaran. Untuk dapat mengetahui apakah potensiometer tersebut linier atau logaritmik, dapat dilihat huruf yang tertera di bagian belakang badannya. Jika tertera huruf B, maka potensiometer tersebut logaritmik. Jika huruf A, maka potensiometer linier. Pada umumnya, nilai resistansi juga tertera pada bagian depan badannya. Nilai yang tertera tersebut merupakan nilai resistansi maksimal dari potensiometer.

Potensiometer Geser 

Potensiometer geser merupakan kembaran dari potensiometer yang telah dibahas di atas. Perbedaannya adalah cara mengubah nilai resistansinya. Pada potensiometer yang telah dibahas di atas, cara mengubah nilai resistansinya adalah dengan cara memutar gagang yang muncul keluar. Sedangkan, untuk potensiometer geser, cara mengubah nilai resistansinya adalah dengan cara menggeser gagang yang muncul keluar. Bentuk dari potensiometer geser dapat dilihat pada gambar di samping. Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk membuat potensiometer ini adalah karbon. Adapula yang terbuat dari kawat, namun saat ini sudah jarang digunakan karena ukurannya yang besar. Pada potensiometer geser ini, perubahan nilai resistansinya hanyalah perubahan secara linier. Bentuk potensiometer geser dapat dilihat pada gambar di atas dengan komponen yang ditengah.

Trimpot 

Trimpot adalah kependekan dari Tripotensiometer. Sifat dan karakteristik dari trimpot tidak jauh beda dengan potensiometer. Hanya saja, trimpot ini memiliki ukuran yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan potensiometer. Perubahan nilai resistansinya juga dibagi menjadi 2, yakni linier dan logaritmik. Huruf B yang tertera pada trimpot menyatakan perubahan nilai resistansinya secara logaritmik, sedangkan huruf A untuk perubahan secara linier. Untuk mengubah nilai resistansinya, kita dapat memutar lubang tengah pada badan trimpot dengan menggunakan obeng. Bentuk trimpot dapat dilihat pada gambar di samping.

 

NTC dan PTC 
 NTC (Negative Temperature Coefficient) dan PTC (Positive Temperature Coefficient) merupakan resistor yang nilai resistansinya berubah jika terjadi perubahan temperatur di sekelilingnya. Untuk NTC, nilai resistansi akan naik jika temperatur sekelilingnya turun. Sedangkan, nilai resistansi PTC akan naik jika temperatur sekelilingnya naik. Kedua komponen ini sering digunakan sebagai sensor untuk mengukur suhu atau temperatur daerah di sekelilingnya. Bentuk NTC dan PTC dapat dilihat pada gambar di samping.

 


LDR 
LDR (Light Dependent Resistor) merupakan resistor yang nilai resistansinya berubah jika terjadi perubahan intensitas cahaya di daerah sekelilingnya. Pada prinsipnya, intensitas cahaya yang besar mampu mendorong elektron untuk menembus batas – batas pada LDR. Dengan demikian, nilai resistansi LDR akan naik jika intensitas cahaya yang diterimanya sedikit atau kondisi sekelilingnya gelap. Sedangkan, nilai resistansi LDR akan turun jika intensitas cahaya yang diterimanya banyak atau kondisi sekelilingnya terang. LDR sering digunakan sebagai sensor cahaya, khususnya sebagai sensor cahaya yang digunakan pada lampu taman. Bentuk LDR dapat dilihat pada gambar di atas.

Popular Posts

Alexa Rank


Followers

gif maker